Aliran Ahlussunah Waljamaah Priode Khalaf

PEMBAHASAN

A. Aliran As-Salaf / Ahlussunah waljamaah

Arti salaf secara bahasa adalah pendahulu bagi suatu generasi. Sedangkan
dalam istilah syariah Islamiyah as-salaf itu ialah orang-orang pertama yang
memahami, mengimami, memperjuangkan serta mengajarkan Islam yang diambil langsung dari shahabat Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari para shahabat) dan para tabi’it tabi’in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman / murid dari tabi’in). istilah yang lebih lengkap bagi mereka ini ialah as-salafus shalih. Selanjutnya pemahaman as-salafus shalih terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits dinamakan as-salafiyah. Sedangkan orang Islam yang ikut pemahaman ini dinamakan salafi. Demikian pula dakwah kepada pemahaman ini dinamakan dakwah salafiyyah.

B. Al-Khalaf

Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf.

Suatu golongan dari ummat Islam yang mengambil fislafat sebagai patokan amalan agama dan mereka ini meninggalkan jalannya as-salaf dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Awal mula timbulnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana munculnya karena
sesungguhnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mulai depopulerkan oleh para
ulama salaf ketika semakin mewabahnya berbagai bid’ah dikalangan ummat
Islam.

Yang jelas wabah bid’ah itu mulai berjangkit pada jamannya tabi’in. dan jaman tabi’in ini yang bersuasana demikian dimulai di jaman khalifah Ali bin Abi
Thalib radhiallahu anhu.[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya
juz 1 hal.84, Syarah Imam Nawawi bab Bayan Amal Isnad Minad Din dengan
sanadnya yang shahih bahwa Muhammad bin Sirrin menyatakan, “Dulu para
shahabat tidak pernah menanyakan tentang isnad (urut-urutan sumber riwayat)
ketika membawakan hadits Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ketika
terjadi fitnah yakni bid’ah mereka menanyakan, ‘sebutkan para periwayat yang
menyampaikan kepadamu hadits tersebut.’ Dengan cara demikian mereka dapat
memeriksa masing-masing para periwayat tersebut, apakah mereka itu dari
ahlus sunnah atau ahlul bid’ah. Bila dari ahlus sunnah diambil dan bila
ahlul bid’ah ditolak.”

Riwayat yang sama juga dibawakan oleh Khalid Al-Baghdadi dengan sanadnya dalam kitab beliau. Riwayat ini memberitahukan kepada kita bahwa pada jaman Muhammad bin Sirrin sudah ada istilah ahlus sunnah dan ahlul bid’ah. Muhammad bin Sirrin lahir pada tahun 33 H dan meniggal pada tahun 110 H. kemudian istilah ini juga muncul pada jaman Imam Ahmad bin Hambal (lahir 164 dan meninggal 241 H) khususnya ketika terjadi fitnah pemahaman sesat yang
menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, bertentangan dengan ahlus sunnah
yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah.

Fitnah terjadi di jaman pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun Al-Abbasi. Imam Ahmad pada masa fitnah ini adalah termasuk tokoh yang paling berat mendapat sasaran permusuhan dan kekejaman para tokoh ahlul bid’ah melalui Khalifah tersebut. Mulai saat itulah istilah ahlus sunnah wal jama’ah menjadi sangat populer hingga kini, Jadi istilah ahlu sunnah timbul dan menjadi populer
ketika mulai serunya pergulatan antara as-salaf dan al-khalaf, akibat adanya
infiltrasi berbagai filsafat asing ke dalam masyarakat Islam. Ahlus Sunnah
wal Jama’ah kemudian menjadi simbol sikap istiqamahnya (tegarnya) para ulama
ahlul hadits dalam berpegang dengan as-salafiyah ketika para tokoh ahlul
bid’ah meninggalkannya dan ketika berbagai pemahaman dan amalan bid’ah
mendominasi masyarakat Islam.

FATWA PERTAMA IBNU TAIMIYAH YANG BERTENTANGAN DENGAN FATWA AHLUSSSUNNAH WAL JAMAAH:

Allah SWT duduk di atas Arasy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk. Ibnu Taimiyah menfatwakan bahwa Allah SWT duduk bersila di atas Arasy serupa duduk bersilanya Ibnu Taimiyah sendiri. Faham ini beberapa kali diulangnya di tas mimbar Umaiyah di Damsyik, Syria dan di Mesir.

Ia mengawalkan dalil ayat Quran yang diartikannya semuanya saja, dan sebagai yang tersurat saja tanpa memperhatikan yang tersirat dari ayat-ayat itu. Jadi, Ibnu Taimiyah boleh digolongkan kepada kaum Zahirriyah yaitu “kaum Zahir” yang mengartikan Quran dan Hadis secara zahirnya saja. Misalnya firman Allah SWT: “Ar Rahman bersila di tas Arasy.” (Surah Taha: 5) Dan di jelaskan lagi firman-Allah : “Kemudian Ia duduk bersila di atas Arasy,” (Surah Al A’raf : 54)

Dan ayat-ayat Quran serupa dengannya, yang tersebut dalam 7 buah surah dalam Quran yaitu pada surah: Yunus:3 Ar Raad:2 Al Furqan: 59 As Sajadah: 4 Al Hadid:4 Ibnu Taimiyah mengartikan maksud “istawa” yang ada dalam Quran dengan maksud “duduk bersila serupa duduknya.” Fatwa dan i’tiqad Ibnu Taimiyah yang semacam ini ditolak oleh Ahlussunnah wal Jamaah, bukan saja ditolak dengan lisan dan tulisan tetapi juga sampai dibawa ke awal pengadilan dan akhirnya dihukum sampai mati dalam penjara. Kaum Ahlussunnah wal Jamaah, baik kaum Salaf dan Khalaf, tidak mentafsirkan maksud “istawa” dalam ayat-ayat itu dengan “duduk bersila serupa duduknya manusia.
Ada 2 aliran dalam Ahlussunnah wal Jamaah dalam menafsirkan perkataan “istawa”yaitu: Aliran Salaf atau ulama-ulama Islam yang hidup dalam 300 tahun sesudah tahun Hijrah. Aliran Khalaf yaitu ulama Islam yang hidup dari awal 300 tahun sesudah Hijrah samapai sekarang. Ulama salaf menafsirkan maksud hakiki perkataan “istawa” itu kepada Allah. Memang dalam bahasa Arab, istawa artinya duduk tetapi ayat-ayat sifat “istawa” lebih baik dan lebih aman bagi kita tidak diartikan, hanya diserahkan artinya kepada Allah SWT sambil kita i’tiqadkan bahwa Allah SWT tidak duduk seperti makhluk. Ulama-ulama khalaf mentaqwilkan perkataan “istawa” itu dengan “istaula” yakni menguasai atau memerintah. Namun, kedua aliran ini menentang cara-cara Ibnu Taimiyah yang menyerupakan duduknya Allah SWT dengan cara duduknya sendiri.

Karena itu Ibnu Taimiyah bukan pengikut ulama-ulama Salaf atau Khalaf. Kalau diteliti secara mendalam, ulama Salaf dan Khalaf sama-sama mentaqwilkan ayat-ayat Mutasyabbih cuma caranya berbeda. Ulama-ulama Salaf mengakui memang arti “istawa” itu adalah duduk cuma duduknya Allah SWT tidak sama dengan duduknya makhluk. Ulama Khalaf juga begitu, cuma mereka mengakui bahwa arti “istawa’ adalah duduk tetapi ia lebih bersifat simbolik kepada menguasai.

Sepanjang sejarah, Imam Malik bin Anas r.a pernah ditanya tentang maksud ayat Taha ayat 5, maka beliau menjawab: ” Perkataan Istawa sudah diketahui setiap orang artinya, tetapi caranya tidak diketahui, bertanya-tanya dalam soal ini adalah bid’ah.” Demikian jawaban seorang ulama salaf yang juga pengasas Mazhab Maliki Tersebut, juga dalam kitab Tafsir yang muktabar Dalam tafsir Jalalain jilid 3, halaman 82 tertulis: “yang dimaksud ialah menguasai dan memerintah” Dalam tafsir Farid Wajdi jilid 3, halaman 412: Istawa artinya memerintah atau menguasai” 3. Dalam tafsir Ruhul Bayan, jilid 5 halaman 363 tertulis: “Yang dimaksud istawa ialah menguasai.”

Ulama Khalaf menganggap bahwa mentaqwilkan Istawa dengan Istaula adalah lebih aman buat i’tiqad karena tidak akan ada sedikit juga lagi bertentengan dengan ayat dalam Surah As-Syura ayat 11 yang bermaksud: Tiada menyerupai Dia sesuatu juga. Kalau dikatakan Allah SWT bersila seperti makhluk, maka sudah bertentangan dengan ayat ini. pengartian macam ini bagi perkataan istawa terpakai dalam bahasa Arab.

Maksud istawa dalam ayat ini berlabuh, bukan bersila karena perahu tidak dapat bersila. Dan lagi firman Allah SWT: “Kemudian Allah SWT istawa (membuat) langit, lalu dibuatnya 7 langit.” (Al Baqarah:29)

29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Kalau diartikan duduk bersila dalam ayat ini sebagai faham Ibnu Taimiyah, maka terjadilah kepincangan yaitu Allah SWT duduk bersila di atas langit yang sedang dijadikan-Nya. Subhanallah! Dan lagi contoh lain: istawa (tegak) di tas batangnya.” (Al Fath:29) Perkataan istawa dalam ayat ini ialah tegak bukan duduk bersila.

Nampaklah bahwa dalam ayat suci banyak perkataan istawa yang tidak bermaksud duduk bersila. Maka heranlah kita kepada Ibnu Taimiyah yang memaksa dirinya untuk menafsirkan istawa dalam surah Taha: 5 dan lain-lain itu dengan duduk bersila serupa duduk bersilanya dia yang menyebabkan dia termasuk dalam golongan Musyabbihat yaitu orang yang menyamakan Allah SWT dengan makhluk. Jadi dapat dibuat kesimpulan bahwa faham Ibnu Taimiyah itu adalah faham yang sesat dan menyesatkan, karena bertentangan dengan sifat Allah SWT yaitu: “Makhalafatuhu ta’ala lil hawaditsi” (berlainan dengan perkara yg baru/makhluk)

DAFTAR PUSTAKA

Rozak, Abdul & Anwar, Rohison, Ilmu Kalam. CV Pustaka Setia, Bandung, 2003
Nasution, Harun, Teologi Islam, UI Press, Jakarta, 1987
Nata, Abudin, Meteologi Study Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004
Hanafi, Teologi Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1982

[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya juz 1 hal.84,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s