Niat/Motivasi Beramal

BAB II
PEMBAHASAN

A. Niat/Motivasi Beramal

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)

1. Terjemahan Hadits
“Amir AL-Mu’min, Abu Hafs Umar bin Al-Khathtab r.a. bin Nufail, bin abdul Uzza, Bin Riyah, bin Abdullah bin Qurd Rajah bin “Adiy Ka’ab bin Luay, bin Galib keturunan Quraisy Al-Adawy, dia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW telah bersabda “Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi amal tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa berhijrah (menguasai dari daerah kafir ke daerah Islam) semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasullullah.

2. Tinjauan bahasa
Kata penguat (ta’qid) dan untuk meringkas

:

أِنَّمَا
Seseorang, manusia

:

اِعْرِ ىءٍ
Meninggalkan suatu tempat menuju ke tempat lain

:

اَلْهِجْرَةُ
Mendapatkan, mencapai

:

يُصِيْبُ

3. Penjelasan hadits
Rasulullah mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Dari Mekah ke Madinah, yang diikuti oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya bukan untuk kepentingan perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Wanita itu rupanya sudah bertekan akan turut hijrah, sedangkan pada mulanya kali-laki itu memilih tinggal di Mekah. Ummu qais hanya bersedia di kawini di empat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia niat di artikan sebagai maksud tujuan sesuatu perbuatan. [1]Berkenaan dengan niat, sebagian ulama mendefinisikan niat menurut syara’, sebagai berikut:
اَلِنِّيَةُ هِيَ قَصَدُ فِعْلِ شَىْءٍ مُقْتَرَ نًا بِفِعْلِهِ
Artinya : Niat adalah menyengajakan berbuat sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuatan.
Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah karena ingin mendapat rida Allah SWT. maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan duniapun akan diraihnya.
Sebenarnya, hijrah yang dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat itu penduduk Mekah tidak merespon da’ wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak. Namun demikian. niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.
Para ulama telah sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.
Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara’ karena memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum tentu diterima dan berpahala kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betel-betel ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.[2]
sebagaimana firman Allah SWT.:

Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(Q.S. Al-Bayyinah: 5)[3]

Adapun yang dimaksud ikhlas menurut Sayid Sabiq dalam buku Islamuna adalah sebagai berikut:” Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya. Bukan karena mengharapkan harta, pujian, gelar (sebuton), kemasyhuran, dan kemajuan. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan dari akhlak yang tercela sehingga ia menemukan kesukaan Allah. ”
Niat atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki motivasi balk ketika ia beribadah atau sebaliknya.[4]
Allah SWT. berfirman:

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui”. (Ali Imron : 29)[5]

Dengan Demikian, seseorang yang melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw. Bersabda yang artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah SAW, bersabda, Sesungguhnay Allah AWT, tidak melihat bentuk badan danrupamu, tetapi melihat (memperhatikan niat dan keikhlasan dalam) hatimu.”(HR. Muslim)
Dengan demikian orang yang tidak Ikhlas dalam melakukan perintah Allah SWT, misalnya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia tidak akan memberikan apa-apa kelak di akhirat, sebagai firman-Nya:

Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Huud: 15-16)[6]

Jadi, tidaklah heran seseorang uang ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah secara Ikhlas sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.[7] Alah SWT berfirman:

Artinya : Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Qs. AL-Furqan: 23)[8]

A. Riya/Syirik Kecil

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اَخْوَ فَ مَا اَخَا فُ عَلَيْكُمْ الشِّرْ كُ اْلاَصْغَرُ وَالرَّيَاءُ. اَخْرَجَهُ اَحْمَدُ بِاسْنَا دٍ حَسَنٍ

1. Terjemahan hadits
Dari Mahmud bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau khawatirkan menimpa kepadamu ialah syirik kecil dan riya’ Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.[9]
2. Tinjauan Bahasa
Paling takut (af’al tafdil):

أَحْوَفَ
Aku takut (akan):

أَخَافُ
Syirik (menyekutukan Allah):

اَلثِّرْكُ
Riya (berbuat sesuatu bukan Karena Allah Tetapi karena ada niat selainnya):

اَلِرِّ يَاءُ

3. Penjelasan Singkat
Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.
Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak.[10] Sebagaimana telah disinggung dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil. Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang munafik[11]. Allah berfirman:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An-Nisa: 142)[12]

Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din, membagi riya menjadi beberapa tingkat, yaitu:
1. Tingkatan paling berat, yaitu orang yang tujuan setiap ibadahnya hanyalah untuk riya semata-mata dan tidak mengharapkan pahala. Misalnya, seseorang yang melakukan shalat kalau di hadapan orang banyak, sedangkan apabila sendirian dia tidak melaksanakannya, bahkan kadang-kadang shalat tanpa berwudlu terlebih dulu.
2. Orang yang beramal dan mengharapkan pahala, tetapi harapannya sangat lemah karena dikalahkan oleh riya. Dia beramal ketika dilihat orang, sedangkan bila sendirian amalnya sangat sedikit. Misalnya seseorang yang memberikan sedekah banyak di hadapan orang, tetapi kalau sendirian ia memberikan sedikit saja sedekahnva.
3. Niat memperoleh pahala dan riya seimbang. Kalau dalam suatu ibadah hanya terdapat salah satunya saja, misalnya menclapat pahala, tetapi ia tidak bisa riya, ia tidak mau melakukan ibadah. Demikian pula sebalikiiya. Hal itu berarti merusak perbuatan baik, yakni bercarnpurnya pahala dan dosa.
4. Riya (dilihat orang) hanya pendorong untuk melakukan ibadah, sehingga jika tidak dilihat orang pun, dia tetap melakukan ibadah. Hanya saja ia merasa lebih semangat kalau dilihat orang.
Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
1. Malas beramal kalau sendirian.
2. Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
3. Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela manusia.
Syaqiq bin Ibrahim, yang diikuti oleh Abu Laits Samarqandi, berpendapat bahwa ada tiga perkara yang menjadi benteng amal, yaitu:
1. Hendaknya mengakui bahwa aural ibadahnya adalah pertolongan Allah SWT., agar penyakit ujub dalam hatinya hilang;
2. Semata-mata hanya mencari rida Allah SWT. agar hawa nafsunya teratur.
3. Senantiasa hanya mengharap rida Allah SWT. agar tidak timbal rasa tamak atau riya.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah.[13]
Allah SWT. berfirman:

Artinya : “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Qs. Al-Maun: 4-7)[14]

Selain itu, riya pun akan menghapus pahala amal ibadah sebagaimana firman Allah :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Qs. Al-Baqarah : 264)[15]

Namun demikian, berbagai ancaman dan celaan terhadap orang yang riya tidak boleh membuat kita enggan melakukan amal ibadah karena takut termasuk orang yang riya dan amalnya menjadi sia-sia. Pepatah Arab mengatakan:
مَنْ خَافَ الذُّلَّ فِى الذُّ وَمَنْ خَافَ الْخَطَأَ فَى الْخَطَاءِ
Artinya : Barang siap yang takut kehinaan, (sesunggunya) ia telah hina, dan barang siapa yang takut salah (sesungguhnay) ia telah bersalah.
Dengan kata lain, orang yang takut kehinaan dan kesalahan sehingga tidak mau berbuat apa-apa sesungguhnya ia telah hina dan berbuat kesalahan. Begitu pula, orang yang tidak mau beribadah karena takut dikatakan riya sesungguhnya itu termasuk orang yang riya.
Menurut Abu Bakar Al-Wasith, melenyapkan riya dalam beramal adalah utama. Akan tetapi jika belum dapat melakukan, kita tidak boleh berputus asa atau menghalangi kita untuk tidak melakukan amal tersebut karena takut riya. Sebaiknya tetaplah beramal seraya memohon ampun atas riyanya, dengan harapan Allah SWT.[16]

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
· Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya.
· Dalam kamus umum bahasa Indonesia niat di artikan sebagai maksud tujuan sesuatu perbuatan.
· Niat adalah menyengajakan berbuat sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuatan.
· Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.
· Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak.
· Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
4. Malas beramal kalau sendirian.
5. Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
6. Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela manusia

alamat: http://tanpahentimencariilmu.blogspot.com/2011/10/tugas-makalah-hadistniatmotivasi_05.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s